Kamis, 19 Januari 2017

Pribadi Seorang Muslim

Sebelum memulai materi ini, marilah kita awali dengan mengucap basmallah agar mendapat berkah dan rahmat dari Allah SWT, BISMILLAAHIRRAHMAANIRRAHIIM.

Baik, jika berbicara mengenai pribadi seorang muslim maka panduan nya hanya ada 2, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadits. Karena dengan mengikuti keduanya kita dapat menjadi pribadi muslim yang baik. Dan jika kita mencari suri tauladan dalam mencari pribadi seorang muslim yang terbaik, semua itu ada pada diri Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan yang baik) bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab [33] : 21)

Dengan begitu banyak nya referensi dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka setidaknya seorang muslim HARUS memiliki 10 karakter atau kepribadian berikut :

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)


Aqidah menurut bahasa artinya simpul atau ikatan. Sementara menurut bahasa, Aqidah adalah keyakinan teguh yang tidak tercampur dengan keraguan sedikit pun.

Sehingga Aqidah Islam dapat didefenisikan yaitu: meyakini seyakin-yakinnya dalam mengikuti segala ajaran yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad saw sebagai suri tauladan baik melalui Akhlak atau petunjuk Beliau dari Al-qur'an dan Al-hadits.

Salimul aqidah artinya Aqidah yang bersih. Maksudnya aqidah yang murni tanpa tercampur hal-hal yang mengandung ketidak yakinan, kesyirikan, dan kebathilan. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah SWT.

“Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. Al-An’aam [6] : 162)

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)

Shahihul ibadah yang artinya ibadah yang benar maksudnya adalah setiap kita beribadah haruslah merujuk dan sesuai dengan sunnah Rasulullah SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan didalam nya.

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini (urusan agama) yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak” 
(HR. Bukhari no. 2697 dan Muslim no. 1718)

  
     3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh) 

Pengertian akhlak menurut Al-Imam Al-Ghazali adalah suatu sifat yang tertanam dalam jiwa seseorang yang dari sifat tersebut timbul suatu perbuatan dengan mudah / gampang tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan.

Sehingga, Matinul Khuluq atau akhlak yang kokoh maksudnya adalah memiliki sifat -sifat terpuji yang tertanam kuat didalam sanubari sehingga segala perilakunya merupakan cerminan sifat yang dimilikinya.

Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung”
(QS. Al-Qalam [68]:4)


4.  Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)

Kekuatan jasmani harus dimiliki oleh seorang Muslim. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat beribadah melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat dan kuat. Dan puncak ibadah adalah berjihad di jalan Allah SWT perlu memiliki kekuatan fisik yang kuat.


Bahkan Islam akan sulit berkembang sampai sejauh ini jika semua umat Muslim adalah kelompok yang lemah. Muslim harus kuat, muslim harus selalu siap siaga dan mempersiapkan dirinya untuk menghadapi segala rintangan dan ujian yang akan dihadapi.
“Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah.” (HR. Muslim)

5. Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)


      Salah satu sifat Rasulullah SAW adalah fathonah (cerdas). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan kecuali harus dimulai dengan aktifitas berfikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas.

     Islam sangat menekankan umatnya untuk menjadi pribadi yang unggul dalam segala bidang. Islam juga menuntut umatnya untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar memperoleh kebahagian di dunia dan akhirat. Dengan demikian ajaran Islam sarat dengan nilai-nilai intelektual dan spiritualitas.

     Umat islam percaya bahwa Al-qur’an dan al-Sunnah merupakan sumber intelektualitas dan spiritualitas. Al-qur’an bukan hanya basis bagi agama dan pengetahuan spiritual, tapi juga bagi semua jenis ilmu pengetahuan. Ia merupakan sumber utama inspirasi pandangan umat islam tentang keterpaduan sains dan pengetahuan spiritual.
  
     Dengan demikian jelas bahwa al-Qur’an (Allah) sangat menjunjung tinggi terhadap aspek ilmu pengetahuan dan intelektualitas. Kenapa intelektualitas? Karna pengembangan aspek intelektualitas bisa menjadikan umat yang maju, berperadaban dan tauhidi. Ini telah terbukti dalam sejarah kehidupan umat Islam, dimana dengan intelektualitasnya, umat Islam mampu merubah peradaban manusia dari kebobrokan moral dan kegelapan intelektual menuju kepada peradaban tinggi yang sesuai dengan petunjuk Sang Ilahi.

Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”‘, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."
(QS. Az-Zumar [39]: 9)

      6. Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)

Nafsu merupakan fitrah yang diberikan Allah SWT kepada kita. Apabila nafsu dididik ke arah kejahatan, maka nafsu akan menjadi jahat dan liar. Maka akan lahirlah orang yang pandai tetapi jahat, pemimpin yang jahat dan pendidik yang jahat. Sehingga kita perlu berjuang  mendidik dan membiasakan nafsu kita dalam mengikuti telunjuk iman.

Tahapan nafsu dibagi menjadi 3, yaitu :

a.   a. Nafsu Amarah, Yaitu jiwa yang masih cenderung kepada kesenangan yang bersifat duniawi. Nafsu ini berada pada tahap pertama dan tergolong sangat rendah, karena yang memiliki nafsu ini masih cenderung kepada perbuatan-perbuatan maksiat.

Secara alami nafsu amarah cenderung kepada hal-hal yang tidak baik. Bahkan, karena kebiasaan berbuat keburukan tersebut, bila mana dia tidak melakukannya, maka dia akan merasa gelisah, sakau dan gundah gulana.

“Sesungguhnya nafsu itu suka mengajak ke jalan kejelekan, kecuali (nafsu) seseorang yang mendapatkan rahmat Tuhanku.” (QS. Yusuf [12] : 53).



b. Nafsu Lawwamah, Yaitu jiwa yang sudah sadar dan mampu melihat kekurangan-kekurangan diri sendiri, dengan kesadaran itu ia terdorong untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan rendah dan selalu berupaya melakukan sesuatu yang mengantarkan kebahagian yang bernilai tinggi.

Orang  yang memiliki nafsu lawammah ini biasanya disaat ia melakukan maksiat / dosa maka akan timbul penyesalan dalam dirinya, namun dalam kesempatan lain ia akan mengulangi maksiat tersebut dan akan kembali menyesali nya. Selain itu ia juga menyesal kenapa ia tidak dapat berbuat kebaikan lebih banyak

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”
(QS. Al- Qiyamaah [75] : 2).

c.   c. Nafsu Mutmainnah, Yakni jiwa tenang, tentram, karena nafsu ini tergolong tahap tertinggi, nafsu yang sempurna berada dalam kebenaran dan kebajikan, itulah nafsu yang dipanggil dan dirahmati oleh Allah SWT

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhaiNya.” (QS. Al - Fajr : 27-28).

Orang yang berjuang dalam melawan hawa nafsu dibagi menjadi 2 golongan :

a. Golongan yang terkalahkan oleh hawa nafsu, maka ia condong ke bumi dan cenderung kepada dunia. Meoreka itulah orang-orang kafir dan orang-orang yang mengikuti jejak orang-orang yang lupa kepada Allah swt, maka Allah membuat mereka lupa kepada diri mereka sendiri.


“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

(Q.S Al-Jaatsiyah [45] : 23)


     b. Golongan yang berjuang melawan hawa nafsu, kadang-kadang mereka menang dan kalah. Ketika mereka melakukan kesalahan, segera mereka bertaubat. Ketika mereka berbuat kemaksiatan kepada Allah swt, mereka menyesalinya dan segera memohon ampunan-Nya.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.S Ali-Imran [3] : 135)

Merekalah orang-orang yang diisyaratkan oleh rasulullah saw dengan sabdanya:

“Setiap anak Adam, melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang yang bertaubat.”
(H.R Ahmad dan At-Tirmidzi)


Jihad melawan orang-orang kafir termasuk amalan yang paling utama, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan, kecuali setelah jihad melawan nafsunya. Hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam. Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

“Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam).” (HR. Hakim)

    7. Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)

Waktu adalah sebuah perkara yang amat penting. Tidak ada sesuatu kegiatan pun yang tidak menggunakan waktu, dan tidak dapat 1 detik pun waktu dapat terulang. Seorang Muslim yang baik akan senantiasa memandang bahwa setiap waktu yang dilakukannya harus bernilai kebaikan ibadah.

Harishun Ala Waqtihi atau pandai menjaga waktu maksudnya adalah berusaha memanajemen waktu sedemikian mungkin hingga apa yang kita lakukan dapat selalu bernilai kebaikan dan ibadah tanpa ada waktu yang terbuang percuma.

Tips manajemen waktu :
a. Membuat jadwal keseharian, mulai dari bangun hingga kembali tidur
b. Membuat daftar kegiatan yang harus dilakukan, seperti ibadah yaumiyah
c. Membuat skala prioritas. hal yang penting, kurang penting, dan tidak penting.
d. Membuat goals yang ingin kamu capai
e. Fokus, disiplin, dan jangan menunda-nunda

8. Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)

Munazhzhamun fi Syuunihi atau teratur dalam suatu urusan maksudnya adalah
apabila pribadi muslim dihadapi dalam suatu urusan maka harus menyelesaikan urusan itu dengan baik, sungguh-sungguh, disiplin, konsisten, dan professional. Dengan karatkter muslim seperti inilah yang akan menciptakan kenyamanan dalam menjalankan segala urusan yang kita hadapi.

Aplikasi dari munzhzhamun fi syuunihi dapat diperaktikkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: 
1) Shalat sebagai penata waktunya;
2) Teratur di dalam rumah dan kerjanya;
3) Merapikan ide-ide dan pikiran-pikirannya;
4) Disiplin dalam bekerja; dll

   
     9. Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri) 

Qodirun Alal Kasbi atau memiliki kemampuan usaha sendiri lebih mengarah kepada kemampuan ekonomi. Maksudnya adalah setiap pribadi muslim harus mandiri dalam segala urusan ekonomi nya dan tidak boleh bergantung kepada orang lain.

Pribadi muslim dituntut memiliki kekuatan ekonomi yang kuat, karena dalam mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa di laksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian dari segi ekonomi.

Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki berbagai macam keahlian. Dari keahlian yang kita pelajari tersebut kita menjemput Rizki yang telah Allah SWT telah sediakan.

Sehingga menjadi pribadi muslim memang idealnya harus kaya agar dia bisa melaksanakan ibadah seperti haji, umroh, zakat, infaq, shadaqah dan mempersiapkan masa depan yang baik. Karena menjadi seorang muslim bukan hanya mengacu kepada kebahagiaan di akhirat saja, tapi juga kebahagiaan di dunia.


     10. Nafi’un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Seorang Muslim lebih diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Ini adalah bagian dari implementasi konsep Islam yang penuh cinta, yaitu memberi.

Memberi manfaat yang dimaksud tentu saja memberi manfaat yang baik sehingga dimanapun kita berada, orang disekitar kita akan merasakan keindahan Islam. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan.

Jangan pernah lelah untuk bermanfaat bagi orang lain. Karena Eksistensi manusia sebenarnya ditentukan oleh seberapa besar manfata nya pada yang lain.. dan jangan pernah berhenti memberikan manfaat kepada orang lain karena manfaatnya akan kembali lagi kepada kita.

Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri.” 
(QS. Al-Isra:7)

“Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan2 dunia, Allah akan menyelesaikan kesulitan2nya di hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim)

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.”
(HR. Ahmad dan Thabrani)

Itulah beberapa sifat atau karakter yang harus dimiliki dalam pribadi seorang Muslim. Dengan sifat tersebut seharusnya Muslim menjadi umat yang tangguh sehingga dapat mengemban prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Wallahua’lam Bishshawab


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments system

Disqus Shortname